<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Books for Hope &#124; The Start to Achieving More is Knowing More &#187; Stories from the Field</title>
	<atom:link href="http://www.booksforhopeworld.org/category/stories-from-the-field/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.booksforhopeworld.org</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Fri, 30 Dec 2011 18:32:54 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=abc</generator>
		<item>
		<title>Donasi buku ke Cilincing</title>
		<link>http://www.booksforhopeworld.org/2011/09/donasi-buku-ke-cilincing/</link>
		<comments>http://www.booksforhopeworld.org/2011/09/donasi-buku-ke-cilincing/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Sep 2011 19:31:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amiril</dc:creator>
				<category><![CDATA[Stories from the Field]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.booksforhopeworld.org/?p=500</guid>
		<description><![CDATA[Pada tanggal 14 Agustus 2011, Books for Hope berpartisipasi dalam acara Berbagi Kasih di Cilincing yang diadakan oleh Powered Personality angkatan 33. Dalam acara ini Books for Hope menyumbangkan 30 buku cerita berbahasa Inggris untuk anak umur 12 sampai 15 tahun. Perwakilan dari Books for Hope juga mengikuti acara yang diadakan di Cilincing ini. Sesampainya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>Pada tanggal 14 Agustus 2011, Books for Hope berpartisipasi dalam acara Berbagi Kasih di Cilincing yang diadakan oleh Powered Personality angkatan 33. Dalam acara ini Books for Hope menyumbangkan 30 buku cerita berbahasa Inggris untuk anak umur 12 sampai 15 tahun. Perwakilan dari Books for Hope juga mengikuti acara yang diadakan di Cilincing ini.</p>
<p>Sesampainya di Cilincing kami langsung menuju ke rumah Bruder Petrus selaku ketua Yayasan Atmabrata sekaligus pembina dari acara Berbagi Kasih ini. Setelah dilakukan penyerahan buku secara simbolis dari perwakilan Books for Hope ke masyarakat Cilincing melalui Bruder Petrus, kami pun menuju ke lokasi kegiatan.</p></div>
<div></div>
<div><a href="http://www.booksforhopeworld.org/wp-content/uploads/2011/09/cilincing1.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-502" title="cilincing1" src="http://www.booksforhopeworld.org/wp-content/uploads/2011/09/cilincing1.jpg" alt="cilincing1 Donasi buku ke Cilincing" width="596" height="200" /></a></div>
<div>
<p>Sesampainya di lokasi kegiatan, kami pun memisahkan diri dengan rombongan utama yang pada waktu itu agendanya adalah menjual sembako murah kepada masyarakat setempat. Perwakilan dari Books for Hope diundang oleh Bruder Petrus untuk mengunjungi Taman Baca Power Personality yang beliau dirikan di tengah-tengah masyarakat sekitar. Taman baca ini juga berfungsi sebagai sekolah TK bagi anak-anak sekitar. Sesampainya di taman baca kami disambut oleh salah seorang guru TK yang juga merupakan warga sekitar yang direkrut oleh Bruder Petrus untuk menjadi tenaga pengajar. Kami pun mewawancarai Bruder Petrus lebih lanjut tentang kondisi pendidikan anak di Cilincing.</p>
<p>Kami mendapatkan informasi bahwa tidak seluruh anak di Cilincing bisa masuk sekolah negeri karena kapasitas dan jumlah sekolah yang terbatas. Sebagian besar anak yang tidak masuk ke sekolah negeri ini terpaksa tidak sekolah karena biaya sekolah swasta yang terlampau mahal. Untuk mengatasi hal ini maka Bruder Petrus mendirikan TK Power Personality dan juga Sekolah Bambu sebagai sekolah alternatif bagi anak-anak ini. Guru guru direkrut dari masyarakat sekitar yang mempunyai keinginan untuk mengajar. Buku-buku pelajaran didapatkan dari sumbangan dan juga sebagian dibeli oleh Bruder sendiri. Minat baca anak-anak masih sangat rendah karena minimnya buku-buku yang bersifat pengayaan yang ada di sekolah maupun taman baca yang ada dan juga support dari keluarga yang masih sangat minim. Untuk mengisi waktu senggangnya, kebanyakan anak-anak lebih memilih bermain kartu maupun kelereng daripada belajar dan membaca. Berangkat dari kondisi ini, Books for Hope menawarkan untuk membangun taman baca yang berisi buku-buku cerita yang bersifat pengayaan bagi anak-anak dan juga mengadakan workshop bagi anak-anak setempat untuk meningkatkan minat baca mereka. Bruder Petrus menyambut dengan baik ide ini, bahkan beliau menawarkan untuk memakai ruangan di sekolah Empang yang baru saja beliau dirikan sebagai taman baca.</p></div>
<div></div>
<div><a href="http://www.booksforhopeworld.org/wp-content/uploads/2011/09/cilincing2.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-503" title="cilincing2" src="http://www.booksforhopeworld.org/wp-content/uploads/2011/09/cilincing2.jpg" alt="cilincing2 Donasi buku ke Cilincing" width="601" height="200" /></a></div>
<div>
<p>Diskusi dengan Bruder Petrus kami sudahi bertepatan dengan masuknya anak-anak ke dalam taman baca ini untuk mengikuti agenda selanjutnya dari Acara Berbagi Kasih yaitu lomba mengarang dan menggambar.</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.booksforhopeworld.org/2011/09/donasi-buku-ke-cilincing/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Studi ke Pulau Seribu</title>
		<link>http://www.booksforhopeworld.org/2011/09/books-for-hope-berkunjung-ke-pulau-seribu/</link>
		<comments>http://www.booksforhopeworld.org/2011/09/books-for-hope-berkunjung-ke-pulau-seribu/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Sep 2011 19:05:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amiril</dc:creator>
				<category><![CDATA[Stories from the Field]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.booksforhopeworld.org/?p=485</guid>
		<description><![CDATA[Pada tanggal 15 sampai 16 Agustus 2011, dalam rangka melakukan survey lokasi untuk project Village Tourism, tim Books for Hope mengunjungi Pulau Seribu. Agenda survey kali ini adalah melakukan study kondisi sosial ekonomi masyarakat setempat dan juga potensi kegiatan apa saja yang bisa ditawarkan oleh Pulau Seribu kepada wisatawan.&#160; Kami memulai perjalanan dari dermaga 21 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>Pada tanggal 15 sampai 16 Agustus 2011, dalam rangka melakukan survey lokasi untuk project Village Tourism, tim Books for Hope mengunjungi Pulau Seribu. Agenda survey kali ini adalah melakukan study kondisi sosial ekonomi masyarakat setempat dan juga potensi kegiatan apa saja yang bisa ditawarkan oleh Pulau Seribu kepada wisatawan.&nbsp;</p>
<p>Kami memulai perjalanan dari dermaga 21 di Marina Ancol. Pulau pertama yang kami kunjungi adalah Pulau Tidung. Lama perjalanan dari Marina ke Pulau Tidung adalah 2 jam, kami berangkat naik kapal kerapu jam 7 pagi dan sampai di tempat tujuan jam 9 siang.</p>
<p>Setelah meletakkan barang bawaan di homestay, kami mengunjungi SDN Pulau Tidung 03 Pagi. Kami berdiskusi selama 30 menit dengan kepala sekolah setempat. Dari hasil diskusi ini kami menyimpulkan bahwa pelayanan pendidikan 9 tahun di Pulau Tidung sudah dapat dikatakan mencukupi. Hal ini disebabkan adanya dukungan dari pemerintah dalam bentuk Bantuan Operasional Sekolah untuk jenjang pendidikan SD sampai SMP. Pada umumnya setelah lulus dari SMP, siswa siswa melanjutkan ke SMK Negeri 61 Pulau Tidung. Setelah lulus dari SMK ini ada sebagian yang melanjutkan kuliah di Jakarta dan ada juga yang langsung bekerja sebagai nelayan paruh waktu. Nelayan paruh waktu disini maksudnya adalah pada beberapa bulan tertentu ketika ikan sedang ramai ramainya di laut, maka mereka berprofesi sebagai nelayan, namun ketika sedang sepi-sepinya ikan maka mereka beralih profesi sebagai tour guide.</p>
<p><a href="http://www.booksforhopeworld.org/wp-content/uploads/2011/09/tidung1.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-486" title="tidung1" src="http://www.booksforhopeworld.org/wp-content/uploads/2011/09/tidung1.jpg" alt="tidung1 Studi ke Pulau Seribu" width="595" height="200" /></a></p>
<p>Kami menanyakan apakah kendala yang dihadapi oleh guru-guru setempat dalam melakukan proses belajar mengajar, pak kepala sekolah menyebutkan bahwa masih minim jumlah guru yang bisa mengajar ekstrakurikuler komputer dan pelajaran bahasa Inggris. Beliau merasa pelajaran Bahasa Inggris adalah hal yang dibutuhkan, mengingat fungsi Pulau Tidung sebagai salah satu Pulau wisata yang banyak dikunjungi wisatawan mancanegara. Kami juga sempat melakukan observasi di perpustakaan sekolah dan menyimpulkan bahwa sarana dan prasara nya sudah cukup memadai.</p>
<p>Setelah berpamitan kami melanjutkan perjalanan ke Kantor Lurah Pulau Tidung. Kami disambut langsung oleh Bapak Lurah. Kami langsung mengutarakan maksud kunjungan kami untuk mengadakan Village Tourism project di Pulau Tidung dan menanyakan kira-kira apa yang bisa kami kontribusikan bagi masyarakat Pulau Tidung. Bapak Bunyamin menjelaskan bahwa masyarakat Pulau Tidung dihadapkan pada 3 persoalan besar yaitu: Permasalah Sampah, Permasalahan Terumbu Karang dan Pemberdayaan Masyarakat.</p>
<p><a href="http://www.booksforhopeworld.org/wp-content/uploads/2011/09/tidung2.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-487" title="tidung2" src="http://www.booksforhopeworld.org/wp-content/uploads/2011/09/tidung2.jpg" alt="tidung2 Studi ke Pulau Seribu" width="596" height="198" /></a></p>
<p>Permasalahan Sampah merupakan permasalahan utama yang harus diatasi. Sampah yang menggunung di Pulau Tidung tidak hanya disebabkan oleh penduduk lokal dan wisatawan saja namun mayoritas berasal dari sungai-sungai di Jakarta. Program pembersihan sampah yang ada memiliki banyak tantangan mengingat jumlah sampah yang ada tidak sebanding dengan jumlah tenaga pembersih sampah yang ada di Pulau Tidung, ditambah lagi proses pembersihan sampah yang masih manual. Beberapa hal yang beliau sarankan untuk bisa dibantu adalah bagaimana mengajarkan kepada masyarakat setempat untuk mengolah sampah ini menjadi kompos atau material lainnya yang bernilai jual.</p>
<p>Permasalahan kedua yang dihadapi adalah Permasalahan Terumbu Karang, Pak Lurah menjelaskan bahwa kerusakan terumbu karang yang ada salah satunya disebabkan oleh banyaknya kapal-kapal besar yang menjatuhkan jangkar secara sembarangan, beliau mencanangkan program untuk menentukan area-area tertentu yang khusus menjadi tempat pelemparan jangkar ini. Beliau juga menyarankan, bantuan bisa diberikan dalam bentuk memberikan pelatihan kepada masyarakat setempat untuk memulihkan terumbu karang yang rusak dan juga memelihara yang masih ada.</p>
<p>Permasalahan ketiga adalah pemberdayaan masyarakat. Beliau menjelaskan bahwa nelayan adalah profesi musiman, artinya dalam jangka waktu 1 tahun pasti ada beberapa bulan di mana jumlah tangkapan ikan bagi nelayan-nelayan tersebut sangat minim sekali atau bisa dikatakan tidak ada. Biasanya hal ini disebabkan karena cuaca. Selama musim “paceklik” ini nelayan-nelayan tersebut membutuhkan alternatif perkerjaan yang bisa mendatangkan pendapatan sehingga tetap bisa memenuhi kebutuhan keluarganya. Salah satu saran dari Pak Lurah adalah dengan memberdayakan para istri nelayan, yaitu dengan mengajari mereka membuat souvenir wisata dengan desain yang bagus dan mengajari bagaimana cara memasarkannya. Souvenir wisata ini bisa dibuat dari bahan-bahan laut. Pak Lurah juga menambahkan bahwa workshop/pelatihan yang dilakukan jangan hanya sekali saja, namun perlu berkesinambungan dan jika perlu dibantu dengan suntikan modal kecil bagi mereka yang berpotensi jadi wirausahawan.</p>
<p>Setelah mendapatkan penjelasan yang komprehensif dari Pak Lurah, kami melanjutkan perjalanan ke salah satu area favorit di Pulau Tidung, yaitu Jembatan Cinta. Konon jika ada orang yang berhasil terjun dari jembatan ini ke laut sebanyak 7 kali maka dia akan langsung menemukan jodohnya.</p>
<p>Di Jembatan Cinta ini kami berkesempatan berdiskusi dengan nelayan lokal. Hasil diskusi kami memperkuat apa yang sudah disampaikan oleh Pak Lurah terutama mengenai permasalahan sampah dan pemberdayaan masyarakat.</p>
<p>Bapak Nelayan menambahkan secara spesifik perlunya pelatihan Bahasa Inggris bagi para Tour Guide lokal, terutama bagaimana berinteraksi dengan turis asing. Selama ini mereka hanya menggunakan “bahasa tarzan” ketika berinteraksi dengan wisatawan asing tersebut.</p>
<p><a href="http://www.booksforhopeworld.org/wp-content/uploads/2011/09/tidung3.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-490" title="tidung3" src="http://www.booksforhopeworld.org/wp-content/uploads/2011/09/tidung3.jpg" alt="tidung3 Studi ke Pulau Seribu" width="596" height="200" /></a></p>
<p>Bapak Nelayan juga menjelaskan bahwa dengan semakin banyaknya wisatawan yang berkunjung ke Pulau Tidung, suplai ikan untuk kebutuhan dalam pulau sendiri sudah tidak mencukupi jadi terpaksa mendatangkan dari Jakarta. Hal ini ditambah lagi dengan faktor tidak tentunya persediaan ikan di laut karena cuaca yang berubah-ubah. Untuk memenuhi kebutuhan ikan dalam pulau sendiri sebenarnya pemerintah sudah menjalankan program budidaya ikan. Namun banyak nelayan lokal yang memilih tidak ikut serta karena mereka harus menunggu sekitar 6 &#8211; 12 bulan sebelum bisa memanen ikannya. Waktu tunggu selama 6-12 bulan ini mungkin tidak menjadi masalah bagi mereka yang memiliki pekerjaan sampingan sebagai pegawai negeri atau tour guide karena mereka masih tetap dapat penghasilan, namun untuk nelayan permanen (nelayan yang mendedikasikan waktunya selama 1 tahun penuh untuk melaut), mereka tidak akan punya penghasilan selama waktu tunggu ini. Di sinilah diperlukan peran program pemberdayaan istri-istri nelayan untuk dapat mendukung keuangan keluarganya selama waktu menunggu panen.</p>
<p>Setelah selesai berdiskusi dengan nelayan lokal dan puas dengan berfoto dan menikmati pemandangan di Jembatan Cinta. Kami melanjutkan perjalanan ke Pulau Pramuka.</p>
<p>Waktu tempuh dari Pulau Tidung ke Pulau Pramuka adalah 1 jam dengan kapal kayu.</p>
<p>Sesampainya di Pulau Pramuka kita bertemu dengan Pak Komeng dari Elang Ekowisata. Setelah menjelaskan maksud kedatangan kami yang ingin mengadakan Village Tourism Project,  beliau menginformasikan tentang beberapa opsi kegiatan wisata dan konservasi yang bisa dilakukan di Pulau Pramuka.</p>
<p>Kunjungan pertama kami adalah pusat perawatan terumbu karang yang dikelola Pak Komeng. Di tempat ini beliau memelihara terumbu karang yang sakit dan ketika sudah sehat di tanam lagi di laut lepas. Beliau menjelaskan bahwa opsi kegiatan konservasi terumbu karang di sini ada dua macam yaitu membersihkan terumbu karang dan menanam terumbu karang. Menanam di sini dalam artian memindahkan terumbu karang dari lingkungan yang membahayakan ke lingkungan yang aman. Lebih lanjut beliau menjelaskan bahwa kegiatan menanam terumbu karang adalah yang paling sederhana karena bisa dilakukan dengan snorkeling atau bahkan cukup dari atas permukaan air. Sedangkan untuk kegiatan membersihkan terumbu karang membutuhkan kemampuan untuk menyelam dan mengidentifikasi mana saja terumbu karang yang sakit dan perlu dibersihkan. Setelah dibersihkan pun perlu adanya kegiatan cek-up rutin kondisi terumbu karang tersebut.</p>
<p><a href="http://www.booksforhopeworld.org/wp-content/uploads/2011/09/tidung4.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-492" title="tidung4" src="http://www.booksforhopeworld.org/wp-content/uploads/2011/09/tidung4.jpg" alt="tidung4 Studi ke Pulau Seribu" width="594" height="200" /></a></p>
<p>Setelah dari tempat perawatan terumbu karang, kami melanjutkan ke tempat penangkaran penyu dan penanaman mangrove. Di sekitar tempat penangkaran penyu tampak beberapa cluster tanaman mangrove hasil dari kegiatan penanaman mangrove oleh beberapa instansi pendidikan dan perusahaan di Jakarta. Pak Komeng menjelaskan bahwa wisatawan bisa membeli tanaman mangrove seharga Rp 8000 untuk kemudian ditanam bersama-sama. Beliau juga menjelaskan untuk kegiatan yang berhubungan dengan penyu, para wisatawan bisa belajar proses penangkaran dan juga bisa terlibat dalam proses pelepasan penyu di pantai.</p>
<p><a href="http://www.booksforhopeworld.org/wp-content/uploads/2011/09/tidung5.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-493" title="tidung5" src="http://www.booksforhopeworld.org/wp-content/uploads/2011/09/tidung5.jpg" alt="tidung5 Studi ke Pulau Seribu" width="599" height="200" /></a></p>
<p>Selepas dari tempat penangkaran penyu, Pak Komeng mengajak kami melihat penginapan yang bisa kami jadikan sarana akomodasi untuk project Village Tourism ini. Penginapan ini sangat bersih sekali dan memang didedikasikan hanya untuk para wisatawan, artinya kita tidak sharing dengan penduduk lokal setempat. Satu penginapan berkapasitas sampai 8 orang, dengan harga sekitar Rp 400.000 per rumah penginapan. Dalam satu deretan ada sekitar 5 rumah penginapan. Rumah rumah penginapan ini menghadap langsung ke laut lepas. Benar-benar tempat ideal untuk melepas penat dari suasana kota. Untuk urusan makanan, penduduk setempat akan memasak dan mengantarkannya ke rumah penginapan setiap jam makan.</p>
<p>Sebelum kami kembali ke Pulau Tidung, kami sempat menanyakan kepada Pak Komeng kira kira kalau para wisatawan memberi bantuan berupa dana akan digunakan untuk apa sebagai prioritas nya. Beliau dengan tegas menjelaskan akan menggunakan dana tersebut untuk melatih lebih banyak lagi masyarakat tentang bagaimana cara memelihara dan merawat terumbu karang.</p>
<p>Kami mengakhiri kunjungan singkat tersebut pada jam 5 sore. Setelah berpamitan, kami kembali berlayar menuju Pulau Tidung.</p>
</div>
<div>Keesokan harinya, seharusnya kami pulang ke Jakarta jam 9 pagi namun karena banyaknya penduduk asli pulau Tidung yang akan ke Jakarta maka mereka diprioritaskan dan jadual kepulangan kami diundur jadi jam 3 sore. Kami memanfaatkan waktu luang ini untuk kembali mengunjungi jembatan cinta. Kami menyeberangi jembatan menuju ke Pulau Tidung Kecil. Di Pulau yang tidak berpenghuni ini, kami menikmati berjalan menyusuri pantai yang pasirnya putih dan mengamati tanaman-tanaman mangrove sepanjang pesisir pantai. Kami menyimpulkan bahwa jembatan cinta dan Pulau Tidung Kecil adalah aset wisata utama dari Pulau Tidung karena keindahan alamnya.&nbsp;</p>
<p><a href="http://www.booksforhopeworld.org/wp-content/uploads/2011/09/tidung6.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-494" title="tidung6" src="http://www.booksforhopeworld.org/wp-content/uploads/2011/09/tidung6.jpg" alt="tidung6 Studi ke Pulau Seribu" width="598" height="200" /></a></p>
<p>Setelah menghabiskan waktu sekitar 2 jam, kami balik ke rumah penginapan. Pada jam 2 siang, kami kembali ke Jakarta dengan menggunakan kapal kerapu. Mengingat pada malam harinya terjadi bulan purnama, maka gelombang laut sangatlah ganas, hal ini menyebabkan kapal yang kami tumpangi mengalami goncangan hebat sepanjang 2 jam perjalanan. Namun akhirnya dengan segala sensasi perjalanan laut yang ada kami sampai berlabuh di Marina Ancol dengan selamat pada jam 4 sore.</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.booksforhopeworld.org/2011/09/books-for-hope-berkunjung-ke-pulau-seribu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Meeting dengan Ibu Gouri</title>
		<link>http://www.booksforhopeworld.org/2011/09/breakfast-meeting-books-for-hope-dengan-ibu-gouri-mirpuri/</link>
		<comments>http://www.booksforhopeworld.org/2011/09/breakfast-meeting-books-for-hope-dengan-ibu-gouri-mirpuri/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Sep 2011 18:14:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amiril</dc:creator>
				<category><![CDATA[Stories from the Field]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.booksforhopeworld.org/?p=480</guid>
		<description><![CDATA[Pada tanggal 17 Agustus 2011, bertepatan dengan hari kemerdekaan negara tercinta Republik Indonesia. Books for Hope mendapat kehormatan untuk diundang makan pagi oleh Ibu Gouri Mirpuri &#8211; istri Duta Besar Singapore untuk Indonesia. Pada jam 7 pagi kami pun bertolak dari meeting point di Setiabudi One menuju ke Singapore House. Sesampainya di sana kami langsung [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>Pada tanggal 17 Agustus 2011, bertepatan dengan hari kemerdekaan negara tercinta Republik Indonesia. Books for Hope mendapat kehormatan untuk diundang makan pagi oleh Ibu Gouri Mirpuri &#8211; istri Duta Besar Singapore untuk Indonesia.</p>
<p>Pada jam 7 pagi kami pun bertolak dari meeting point di Setiabudi One menuju ke Singapore House. Sesampainya di sana kami langsung mendiskusikan tentang Books for Hope, program apa saja yang telah dilakukan dan apa rencana kami ke depan. Ibu Gouri juga menjelaskan tentang Learning Farm di Cipanas, yaitu organisasi non profit yang dibinanya, dan bagaimana Books for Hope bisa bekerja sama dengan Learning Farm. Diskusi berlanjut dengan membahas topik yang sedang hangat-hangatnya dibicarakan di dunia global yaitu: Social Enterpreneurship. Founder dari Books for Hope yang juga adalah alumni dari Social Entrepreneurship MBA program di Oxford University menjelaskan secara singkat tentang definisi dari Social Enterprise dan contoh-contoh business model yang lazim di adopsi.</p>
<p>Ditengah diskusi, bapak Dubes muncul untuk bergabung sarapan dengan kami semua. Kami sangat senang dengan hal ini dan kami menggunakan kesempatan ini untuk berfoto bersama.</p>
<p>Dari hasil diskusi tampak bahwa Bu Gouri sangat berkomitmen mendedikasikan hidupnya untuk pelestarian lingkungan. Beliau adalah tipe aktivis yang tidak segan untuk terjun langsung ke lapangan memantau segala aktivitas organisasi yang dibinanya. Di akhir pertemuan, beliau membagikan buku beliau yang membahas profil para Social Innovator di Indonesia yang bergerak di bidang lingkungan hidup dan juga buku best-seller beliau yang berisi 40 tips sederhana, dalam bentuk gambar kartun, yang bisa dilakukan masyarakat untuk memelihara lingkungan sekitar. Tak lupa pulau beliau menandatangani buku-buku tersebut untuk kami semua.</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.booksforhopeworld.org/2011/09/breakfast-meeting-books-for-hope-dengan-ibu-gouri-mirpuri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Studi ke Learning Farm</title>
		<link>http://www.booksforhopeworld.org/2011/09/books-for-hope-berkunjung-ke-cimory-dan-learning-farm-cipanas/</link>
		<comments>http://www.booksforhopeworld.org/2011/09/books-for-hope-berkunjung-ke-cimory-dan-learning-farm-cipanas/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Sep 2011 18:10:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amiril</dc:creator>
				<category><![CDATA[Stories from the Field]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.booksforhopeworld.org/?p=439</guid>
		<description><![CDATA[Pada tanggal 17 Agustus 2011, Books for Hope mengadakan kunjungan ke Cimory di daerah Cisarua Puncak. Tujuan kunjungan kali ini adalah untuk melakukan survey kondisi sosial ekonomi masyarakat setempat dalam rangka project Village Tourism. Di Cimory kami bertemu dengan beberapa karyawan dan pemimpin koperasi daerah sekitar. Pemimpin koperasi menjelaskan bahwa kebanyakan masyarakat sekitar bermata pencaharian sebagai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>Pada tanggal 17 Agustus 2011, Books for Hope mengadakan kunjungan ke Cimory di daerah Cisarua Puncak.</div>
<div>Tujuan kunjungan kali ini adalah untuk melakukan survey kondisi sosial ekonomi masyarakat setempat dalam rangka project Village Tourism. Di Cimory kami bertemu dengan beberapa karyawan dan pemimpin koperasi daerah sekitar. Pemimpin koperasi menjelaskan bahwa kebanyakan masyarakat sekitar bermata pencaharian sebagai peternak sapi perah dan mayoritas mereka mensupplai ke Cimory. Bagi penduduk yang tidak mampu membeli sapi dapat meminjam dana di Koperasi. Permasalahan masyarakat sekitar adalah minimnya fasilitas toilet yang memadai di sekolah-sekolah sekitar pabrik. Selepas berdiskusi, para karyawan Cimory menawarkan kami untuk tour mengelilingi pabrik pengolahan susu murni tersebut. Seusai tour kami pun mengunjungi kandang sapi milik pemimpin koperasi, setelah berdiskusi tentang siklus produksi sapi perah kami pun melanjutkan perjalanan ke Learning Farm di Cipanas.</div>
<div><a href="http://www.booksforhopeworld.org/wp-content/uploads/2011/09/Cimory-and-Learning-Farm.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-472" title="Cimory and Learning Farm" src="http://www.booksforhopeworld.org/wp-content/uploads/2011/09/Cimory-and-Learning-Farm.jpg" alt="Cimory and Learning Farm Studi ke Learning Farm" width="500" height="170" /></a></div>
<div>
Di Learning Farm kami disambut oleh bapak Johan selaku Executive Director. Learning Farm menempati lahan seluas 500 meter2 yang merupakan pinjaman dari PT Medco Energi. Learning Farm sendiri adalah organisasi non profit yang memfokuskan diri pada pemberian pelatihan pertanian organik kepada anak-anak jalanan. Pak Johan menjelaskan bahwa Learning Farm tidak hanya menerima anak jalanan saja namun ada juga anak-anak dari bekas daerah bencana dan daerah konflik. Setelah melalui proses perekrutan yang cukup ketat, sebanyak 40 anak-anak terpilih tinggal di asrama di Learning Farm selama 4 bulan untuk menerima pendidikan pertanian organik, pendidikan bisnis dan pendidikan kepemimpinan. Semua fasilitas makan, minum, listrik dan air sepenuhnya ditanggung oleh Learning Farm. Pendidikan 4 bulan ini sifatnya cuma-cuma alias gratis dan setelah melewati masa pendidikannya, anak-anak ini banyak yang meneruskan karir di bidang pertanian baik itu organik maupun non-organik, ada juga sebagian kecil anak yang bekerja di bidang keamanan dan juga sebagai office boy. Pak Johan juga menambahkan bahwa beliau masih tetap menjalin hubungan erat dengan para alumni Learning Farm. Beliau menceritakan bahwa banyak alumni yang terjun menekuni pertanian organik masih kerap menelfon beliau untuk meminta saran teknis.</p>
<p><a href="http://www.booksforhopeworld.org/wp-content/uploads/2011/09/Pak-Johan-dan-Kurikulum.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-473" title="Pak Johan dan Kurikulum" src="http://www.booksforhopeworld.org/wp-content/uploads/2011/09/Pak-Johan-dan-Kurikulum.jpg" alt="Pak Johan dan Kurikulum Studi ke Learning Farm" width="500" height="165" /></a></p>
<p>Selama proses pendidikan 4 bulan ini, anak-anak diajarkan proses bertani organik secara komprehensif. Mulai dari bagaimana membentuk ekosistem yang mendukung jenis tanaman tertentu, teknik pembuatan pupuk yang ekonomis, teknik pengairan dan tumpang sari hingga bagaimana cara memasarkan dan mendistribusikan produk organik tersebut ke pelanggan. Pak Johan menginformasikan bahwa produk-produk organik ini di distribusikan ke pelanggan di Jakarta yang terdiri dari pelanggan individu yang kebanyakan para ekspatriat dan juga pelanggan institusi yaitu Swalayan Kem-Chick. Dari hasil penjualan ke para pelanggan di Jakarta inilah Learning Farm memenuhi biaya operasional harian mereka. Pak Johan menambahkan bahwa jumlah permintaan akan produk organik masih jauh lebih banyak dari kapasitas produksi di Learning Farm, hal ini disebabkan terbatasnya lahan organik yang tersedia. Selain mengajarkan pertanian organik, Learning Farm juga mengajarkan bagaimana membuat business plan di bidang pertanian organik yang efektik dan bagaimana mengalokasikan modal dari para investor secara optimal untuk menghasilkan tanaman organik berkualitas tinggi sehingga mampu menghasilkan return maksimal bagi para investor.</p>
<p><a href="http://www.booksforhopeworld.org/wp-content/uploads/2011/09/perpustakaan-dan-ladang1.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-476" title="perpustakaan dan ladang" src="http://www.booksforhopeworld.org/wp-content/uploads/2011/09/perpustakaan-dan-ladang1.jpg" alt="perpustakaan dan ladang1 Studi ke Learning Farm" width="500" height="167" /></a></p>
<p>Tantangan yang dihadapi Learning Farm ini antara lain adalah terbatasnya lahan untuk meningkatkan kapasitas produksi untuk memenuhi jumlah permintaan yang meningkat; rendahnya minat baca anak-anak disebabkan buku-buku yang tersedia hampir sebagian besar adalah dalam bahasa Inggris; minimnya buku-buku yang membahas cara bercocok tanam tanaman perkebunan seperti kopi dan cokelat; adanya kebutuhan terhadap suatu sistem psikologi yang dapat menentukan profil anak-anak sehingga para pembina mengetahui secara akurat jenis treatment seperti apa yang harus diberikan; adanya kebutuhan untuk pelatihan akuntansi dan keuangan bagi para pembina Learning Farm.</p>
</div>
<div>
<p>Berangkat dari tantangan ini, Books for Hope bersedia untuk bekerja sama membantu Learning Farm terutama dalam hal pengadaan buku-buku pertanian organik berbahasa Indonesia, perancangan sistem profiling anak; dan penyelenggaraan workshop untuk meningkatkan minat baca anak didik di Learning Farm.</p>
<p>Setelah berdiskusi dengan Pak Johan dan rekan pembina lainnya, acara pun ditutup dengan buka puasa bersama dengan seluruh anggota Learning Farm.</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.booksforhopeworld.org/2011/09/books-for-hope-berkunjung-ke-cimory-dan-learning-farm-cipanas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Fun Saturday</title>
		<link>http://www.booksforhopeworld.org/2010/11/fun-saturday/</link>
		<comments>http://www.booksforhopeworld.org/2010/11/fun-saturday/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Nov 2010 14:01:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Books for Hope</dc:creator>
				<category><![CDATA[Stories from the Field]]></category>
		<category><![CDATA[books]]></category>
		<category><![CDATA[books for hope]]></category>
		<category><![CDATA[kids]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.booksforhopeworld.org/?p=386</guid>
		<description><![CDATA[On Saturday morning, Nov. 20th 2010. Tangerang Youth Detention Center (The Center) with Books for Hope and Pustaka Lebah held Writing Workshop named &#8220;Fun Saturday&#8220;. This event took place at The Center&#8217;s Hall. There were 20 kids with age range from 13 to 18 years old participated in this event. Journalists from Gatra, MNC and [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="_mcePaste"><img class="alignnone size-full wp-image-387" title="fun saturday with booksforhope" src="http://www.booksforhopeworld.org/wp-content/uploads/2010/11/fun-saturday-booksforhope-small.jpg" alt="fun saturday booksforhope small Fun Saturday" width="500" height="250" /></div>
<div></div>
<div></div>
<div>On Saturday morning, Nov. 20th 2010. Tangerang Youth Detention Center (The Center) with <strong>Books for Hope</strong> and Pustaka Lebah held Writing Workshop named &#8220;<strong>Fun Saturday</strong>&#8220;. This event took place at The Center&#8217;s Hall. There were 20 kids with age range from 13 to 18 years old participated in this event. Journalists from Gatra, MNC and Bintang Indonesia were also present. In addition to workshop, Books for Hope also donated books to the Center&#8217;s library.</div>
<div>Mr. Priyadi &#8211; as The Center&#8217;s Chief &#8211; delivered speech to start the event. He mentioned in his speech that he was very supportive with the workshop since it was aligned with his program &#8211; to provide applied skills to the kids. He added that recently there were various applied skills have been taught in the Center besides formal education. Some of these applied skills are: Computer course, mechanic skills, fishery, music, graphic design, drama etc. All these skills were provided in order to equip the kids once they were released. The Chief concluded his speech by sharing his aspiration that with so many applied skills taught in The Center, he hoped that in the near future The Center could become &#8220;living laboratory&#8221; for those who want to learn how to teach such skills to improve human life.</div>
<div>After The Chief&#8217;s speech, we continued to the movie session. We have selected &#8220;Kungfu Panda&#8221; as the movie. Olga Lydia &#8211; one of Indonesia&#8217;s Top Celebrities &#8211; led this session. She mentioned that there are so many values that we could learn from &#8220;Kungfu panda&#8221; one of them is the importance of having self confidence and strong willingness to keep learning in order to optimize someone&#8217;s talent.</div>
<div></div>
<div>During the movie, we saw some of these kids laughed happily as they watched the adorable main character &#8211; Po the Panda. The combination of simple story line, comedy elements and the value of life managed to captivate all these kids&#8217; attention to the movie screen even though at the same time we tried to distract them by distributing delicious Krispy Kreme&#8217;s doughnuts. To these kids, watching television was a luxury activity in their daily life so we understood that they were really enthusiasts with this movie session.</div>
<div></div>
<div></div>
<div>Finished with the movie session, we continued with the workshop session. Koko from Pustaka Lebah opened this session by describing the workshop&#8217;s rules. He explained that after watching movie, every kids will be given a homework to write a story which theme aligned with movie&#8217;s theme. The story could be anything from movie&#8217;s review until personal experience as long as the theme aligned with the movie. These writings served as tickets for these kids which means those who don&#8217;t submit their writings in the next meeting &#8211; which will be held 2 weeks from this meeting &#8211; will not be eligible to participate in the movie session. Koko also mentioned that for those whose stories have been elected as the stories of the week will be rewarded. In order to facilitate these kids writing their stories, Books for Hope and Koko equipped these kids with workbooks and pencils. Koko ended the workshop session with encouragement to these kids that their writings could determine their future, as these writings will be published to the internet so the whole world could read it. &#8220;Physically you are confined in this place, however your writings are free to channel your opinion to the outside world&#8221; said Koko to conclude his session as well as to end the workshop.</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.booksforhopeworld.org/2010/11/fun-saturday/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pulau Komodo</title>
		<link>http://www.booksforhopeworld.org/2010/04/pulau-komodo/</link>
		<comments>http://www.booksforhopeworld.org/2010/04/pulau-komodo/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Apr 2010 13:07:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Books for Hope</dc:creator>
				<category><![CDATA[Stories from the Field]]></category>
		<category><![CDATA[books for hope]]></category>
		<category><![CDATA[olga lydia]]></category>
		<category><![CDATA[pulau komodo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.booksforhopeworld.org/?p=372</guid>
		<description><![CDATA[Books for Hope, Lydia, jessy, olga lydia, and 2 reporters (from gatra and MNC) just got back from komodo village in komodo island (flores). We support the village there by donating 350books. There are around 450children in the village, age from elementary to junior high. They have a proper school building only up to junior [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Books for Hope, Lydia, jessy, olga lydia, and 2 reporters (from gatra and MNC) just got back from komodo village in komodo island (flores). We support the village there by donating 350books.</p>
<p>There are around 450children in the village, age from elementary to junior high. They have a proper school building only up to junior high. Those who want to continue to senior hig, have to go to the other island.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-374" title="books for hope at pulau komodo" src="http://www.booksforhopeworld.org/wp-content/uploads/2010/04/pulau_komodo_1.jpg" alt="pulau komodo 1 Pulau Komodo" width="500" height="200" /></p>
<p>To build the library in komodo village, we work together w/ the kepala desa (pak adam). The space for the library is located below pak ridwan&#8217;s house (the houses in the village is rumah panggung, so we use the &#8216;kolong&#8217; as library). The bookshelves are prepared by the community with the support of Taman Bacaan Pelangi.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-375" title="books for hope at pulau komodo" src="http://www.booksforhopeworld.org/wp-content/uploads/2010/04/pulau_komodo_2.jpg" alt="pulau komodo 2 Pulau Komodo" width="500" height="200" /></p>
<p>When we arrived at the village, the children were lining up to welcome us with their &#8216;komodo&#8217; theme song. So interesting. They even have a &#8216;manta ray&#8217; mascot dancing during the songs.</p>
<p>We held WEW as usual. There were around 80 children attending the workshop.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-376" title="books for hope at pulau komodo" src="http://www.booksforhopeworld.org/wp-content/uploads/2010/04/pulau_komodo_3.jpg" alt="pulau komodo 3 Pulau Komodo" width="500" height="200" /></p>
<p>Olga Lydia has been very helpful in arranging this visit and in getting the media coverage. So the promotion will be from the tourism side komodo island and books for hope is mentioned as well.<br />
the media coverage,will come from more media, coz olga arranged press conf yesterday.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.booksforhopeworld.org/2010/04/pulau-komodo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tawa Merdeka di Muara Angke</title>
		<link>http://www.booksforhopeworld.org/2009/08/tawa-merdeka-di-muara-angke/</link>
		<comments>http://www.booksforhopeworld.org/2009/08/tawa-merdeka-di-muara-angke/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Aug 2009 07:40:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Books for Hope</dc:creator>
				<category><![CDATA[Book for Hope Latest Events]]></category>
		<category><![CDATA[Stories from the Field]]></category>
		<category><![CDATA[books for hope]]></category>
		<category><![CDATA[olga lydia]]></category>
		<category><![CDATA[PWCare]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.booksforhopeworld.org/?p=299</guid>
		<description><![CDATA[Pada tanggal 16 Agustus 2009, ada yang berbeda di perkampungan nelayan, Muara Angke, Jakarta Barat. Sekitar 50 anak berkumpul dengan menggenggam buku kesukaannya. Mereka tak sabar menunggu giliran untuk segera menunjukkan kemampuannya berdongeng di acara: &#8220;Merdeka Lewat Buku&#8221;. Acara ini merupakan kerjasama antara Books For Hope (BfH) dan PWCare (CSR Activity dari Price Waterhouse Cooper) [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada tanggal 16 Agustus 2009, ada yang berbeda di perkampungan nelayan, Muara Angke, Jakarta Barat. Sekitar 50 anak berkumpul dengan menggenggam buku kesukaannya. Mereka tak sabar menunggu giliran untuk segera menunjukkan kemampuannya berdongeng di acara:<strong> &#8220;Merdeka Lewat Buku&#8221;</strong>.</p>
<p><span id="more-299"></span></p>
<p>Acara ini merupakan kerjasama antara<strong> Books For Hope (BfH)</strong> dan <strong>PWCare</strong> (CSR Activity dari Price Waterhouse Cooper) dalam rangka merayakan dirgahayu kemerdekaan Indonesia yang ke-64. Pada kesempatan ini hadir <strong>Olga Lydia, duta baca dari Books for Hope</strong> yang juga bertindak sebagai juri untuk lomba mendongeng.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-303" title="Books for Hope &amp; Olga Lydia at Muara Angke" src="http://www.booksforhopeworld.org/wp-content/uploads/2009/08/muaraAngke2.jpg" alt="Books for Hope &amp; Olga Lydia at Muara Angke" width="500" height="250" /></p>
<p>Antusiasme peserta lomba tidak terbendung. Sebut saja <strong>Gopi</strong>, walau belum fasih membaca ia tetap percaya diri untuk berdongeng di depan teman-temannya. Semangat <strong>Gopi</strong> untuk menunjukkan kemampuannya merupakan gambaran sekilas anak-anak Indonesia yang memiliki semangat untuk merdeka dari segala bentuk kebuta-hurufan dan merdeka untuk berkhayal melalui berbagai cerita yang bisa mereka akses dari buku-buku.</p>
<p>Bukan hanya anak-anak, tetapi orang tua, tetangga, kakak dan adik dari para peserta pun turut memberi tanggapan positif terhadap acara ini. Hal tersebut dapat dilihat dengan membludaknya penonton. Mereka berbondong-bondong untuk menyaksikan kemampuan membaca dan berdongeng dari para peserta.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-305" title="Books for Hope team and Olga Lydia at Muara Angke" src="http://www.booksforhopeworld.org/wp-content/uploads/2009/08/muaraAngke3.jpg" alt="Books for Hope team and Olga Lydia at Muara Angke" width="500" height="250" /></p>
<p>Semangat ini jugalah yang tumbuh di <strong>Books for Hope </strong>dan<strong> PWCare</strong> untuk terus membantu pengadaan buku untuk taman bacaan di Muara Angke.  Salah satu orang yang berjasa dengan hadirnya taman bacaan ini adalah<strong> pak Mahmud</strong>, salah satu anggota <strong>Komisi Nasional Perlindungan Anak</strong>. Pak Mahmud mendambakan anak-anak di desa Muara Angke kelak dapat berhasil di kehidupan. Dan ia percaya, salah satu faktor yang dapat mendukung terwujudnya impian itu adalah dengan menyediakan tempat dan bacaan yang berkualitas. Niat ini disambut hangat oleh <strong>Books for Hope</strong> yang langsung menggandeng <strong>PWCare</strong> sebagai partner dalam proyek ini.</p>
<p>Sudah hampir 2,5 bulan ini BFH dan PWCare bekerjasama untuk mengadakan buku berkualitas bagi anak-anak di perkampungan nelayan Muara Angke . Tidak hanya itu, BfH dan PWCare juga secara rutin memberikan Weekend Enrichment Workshop yang mengajarkan anak-anak berdongeng, menggambar dan mewarnai, menyanyi serta permainan interaktif lainnya.  Tujuannya tak lain dan tak bukan agar anak-anak di desa tersebut dapat tumbuh menjadi pribadi yang berwawasan dan memiliki creative thinking.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-302" title="Books for Hope &amp; Olga Lydia at Muara Angke" src="http://www.booksforhopeworld.org/wp-content/uploads/2009/08/muaraAngke1.jpg" alt="Books for Hope &amp; Olga Lydia at Muara Angke" width="500" height="250" /></p>
<p>Acara tidak berakhir sampai disana. Setelah mengumumkan pemenang untuk lomba mendongeng, maka acara dilanjutkan dengan lomba ala 17-an. Perayaan 17-an tidak akan afdol tanpa lomba makan kerupuk dan juga lomba joget balon. Bahkan, <strong>Olga Lydia</strong>, sang juri juga tidak ragu-ragu untuk turut serta dalam lomba makan krupuk dan berbagi kecerian dengan masyarakat di desa nelayan tersebut.</p>
<p>Demikianlah segelintir cerita dari desa nelayan Muara Angke. Dengan semangat dan kerja keras, Books for Hope akan terus berusaha untuk mengadakan buku dan taman bacaan tidak hanya di Muara Angke, tetapi di berbagai desa di pelosok Indonesia. Sudah saatnya anak Indonesia juga merdeka dari segala pembodohan dan kebuta-hurufan. Dirgahayu Republik Indonesia. <strong>Merdeka!</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.booksforhopeworld.org/2009/08/tawa-merdeka-di-muara-angke/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Taming Julu, West Sumatera</title>
		<link>http://www.booksforhopeworld.org/2009/01/taming-julu/</link>
		<comments>http://www.booksforhopeworld.org/2009/01/taming-julu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Jan 2009 21:01:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Books for Hope</dc:creator>
				<category><![CDATA[Stories from the Field]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.booksforhopeworld.org/?p=173</guid>
		<description><![CDATA[Village: Taming Julu, West Sumatera (6 hours from Padang town) In a remote village 6 hours from Padang town, children were asked to work instead of  going to school. Children’s world is limited only to 3 types of occupation. The team from Books for Hope conducted its first Weekend Enrichment Workshop at this village, welcomed [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Village: Taming Julu, West Sumatera (6 hours from Padang town)</p>
<p><a href="#"><img class="alignnone size-full wp-image-23" title="taming-julu" src="http://www.booksforhopeworld.org/wp-content/uploads/2008/11/taming-julu.jpg" alt="taming julu Taming Julu, West Sumatera" width="144" height="177" /></a></p>
<p>In a remote village 6 hours from Padang town, children were asked to work instead of  going to school. Children’s world is limited only to 3 types of occupation.</p>
<p>The team from Books for Hope conducted its first Weekend Enrichment Workshop at this village, welcomed by a breathtaking landscape &#8211; highlands, blue skies and fresh air. Around 80 children were eagerly waiting for us in their &#8216;wooden hut&#8217; makeshift school. The remaining space in the small hut was filled with equally as excited mothers. The Village Head, School Headmaster, a local Parliamentary member, an English teacher and 3 other teachers were there too. We were given a warm and grand welcome with the supply of a microphone and a box speaker, running on a generator set.</p>
<p>Speeches were made, and the book presentation symbolic gesture was done. The fun part begins! We asked the group of children what do they want to be when they grow up. Out of 100 children, there were only 3 answers! Teacher, doctor and farmer!</p>
<p>In their minds, those were the only 3 occupations they knew. Their parents were mostly farmers, they have 4 teachers, and a doctor from the city visits them once a year for medical check-up. They had no idea that they could be a scientist, an astronaut, a lawyer, or even a seamstress!</p>
<p>Our team spent 1 hour using pop-up charts, colors and story books to introduce them to a world beyond their current predisposition. We also taught them about the physical world &#8211; i.e. where Indonesia is, where the US, China and Europe are, etc. The younger kids joined a coloring competition of pictures of occupations and the older ones wrote an essay of &#8216;Cita-cita Saya&#8217; (My Ambition) each.</p>
<p>Prizes were given to outstanding work! Of course everyone else left with a pencil, a book and a Books for Hope bag!</p>
<p>We were glad that in that one workshop, we have opened up 100 childrens&#8217; minds to more possibilities. Hopefully, to get to their now new ambitions, they will study and read the 500 books that are now theirs!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.booksforhopeworld.org/2009/01/taming-julu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Real Stories from the Children We&#8217;ve Helped</title>
		<link>http://www.booksforhopeworld.org/2009/01/dilik-at-cianjur/</link>
		<comments>http://www.booksforhopeworld.org/2009/01/dilik-at-cianjur/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Jan 2009 18:09:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Books for Hope</dc:creator>
				<category><![CDATA[Stories from the Field]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.booksforhopeworld.org/?p=85</guid>
		<description><![CDATA[In a village in Cianjur, 3 hours from Indonesia’s capital city, Jakarta. Dili, an 11 year old student is an avid reader and one of the brightest child we have met. Being more fortunate than other children in her village, she was smart enough to enter one of the best primary schools in a nearby [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><br />
</strong></p>
<p><a href="http://www.booksforhopeworld.org/wp-content/uploads/2009/01/dilik-2.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-86" title="Dilik at Cianjur" src="http://www.booksforhopeworld.org/wp-content/uploads/2009/01/dilik-2.jpg" alt="Dilik at Cianjur" width="613" height="211" /></a></p>
<p>In a village in Cianjur, 3 hours from Indonesia’s capital city, Jakarta. Dili, an 11 year old student is an avid reader and one of the brightest child we have met.  Being more fortunate than other children in her village, she was smart enough to enter one of the best primary schools in a nearby town. There, she got offered an Accelerated program and completed her primary school at the age of 11, a year earlier than usual. Although a year younger, she finished at 10th place in a school of 600 students.</p>
<p>As her father goes for business in Jakarta intermittently, she has a small collection of books in her room. Dili’s favourite is the set of Harry Porter in Indonesian language. She reads so much that her parents’ income could not keep up with her passion for reading. As a result, she has read each book from her collection 5 times – from end to end. Her parents have brought her books for her future enrollment into high school, books that are for 14 year olds. That too – she has read several times- from end to end. Out of books, she writes her own books from brown writing paper. She writes stories of children, fantasy and horror. She is also the Illustrator of her books, providing each chapter with drawings of her own. She is not only bright but entrepreneurial. She sells these self-made story books for Rupiah 5000 each (Rp 4000 if her buyers provide writing paper). That is USD 0.50 and USD 0.40 each.  From her small book collection, she also rents books to her friends for Rupiah 500 per book for a period of 3 days. She hopes to be an English Teacher one day.</p>
<p>When she heard that Books for Hope is setting up a library in her village, she was thrilled! Now with 1000 bright and colorful books right in front of her house, Dili is busier than before. Reading several books a day, she is a glowing example to other children in the village. She also guides younger kids on reading and writing.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.booksforhopeworld.org/2009/01/dilik-at-cianjur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

